Kamis, 22 Mei 2008

Jangan Marah

JANGAN MARAH

Segala puji bagi Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Shalawat dan salam semoga tercurah atas sang pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, lentera yang menerangi, Nabi kita Muhammad SAW, keluarga dan Para Sahabatnya. Amma ba’du

Sesungguhnya marah adalah gejolak emosi yang disrasakan setiap manusia, tak seorangpun yang lepas dari sifat ini. Ketika marah itu sesuai dengan ketentuan syariat dan sesuai tuntutan akal, maka marah bisa membantu seseorang untuk menghadapi kesulitan dan mengatasi rintangan yang menghadang jalannya. Akan tretapi jika marah itu tidak sesuai dengan ketentuan syari’at dan akal, maka akan membuahkan perilaku kejam, zhalim dan melampaui batas dalam memperlakukan orang lain.

Untuk itu, sudah selayaknya bagi orang yang berakal untuk menanyakan kepada dirinya sendiri : “apa yang menyebabkan dirinya marah ? “

Apakah dia marah karena membela Allah SWT ketika apa yang Dia haramkan dilanggar, hukum-Nya diterjang, syari’at-Nya diganti dan kitab-Nya dicampakkan dalam amaliah maupun hukum?

Apakah dia marah ketiak rumah-rumah kaum musliminpenuh denagn kemungkaran dan kemaksiatan ? lalu kaum wanita dan memakai wewangian?

Apakah dia marah ketika anggota keluarganya tidur diwaktu shalat dan bahkan meninggalkannya?

Apakah dia marah kepada musuh-mudun Allah SWT ketika mereka membantai dan menyiksa kaum muslimin?

Apakah dia memarahi diri sendiri ketika teledor dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan lalai dari ibadah, berzikir dan bersyukur kepada-Nya?

Kebanyakan manusia tidak marah karena urusan-urusan diatas, tidka pula memiliki perhatian terhadapnya. Karena mereka sibuk untuk menggandrungi dunia, menimbun harta dan bergelimang dengan kelezatan. Seakan mereka akan kekal di dunia selamanya.

Namun disaat dia tidak bergeming untuk Allah SWT , Agama-Nya, Kitab-Nya dan Rasul-Nya , justru dia banyak marah. Dia bagaikan serigala buas yang marah karena dunia dan kekayaannya. Dia menjadi marah dengan sebab harta, kehormatan, kekuasaan maupun status sosialnya dalam masyarakat. Dia marah hanya karena urusan makanan, minuman, dan syahwat, lantaran dia ingin mendapatkan semuanya secara sempurna tanpa kurang dan tercecer sedikitpun.

Seperti orang yang marah dan mengamuk hanya karena sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi agama maupun dunianya. Bahkan mudharat begitu tampak jelas bagi orang yang melihatnya. Seperti orang yang marah dan histeris ketika mendengar kematian seorang tokoh idolanya dari kalangan kafir, orang fasik atau yang bermoral rusak. Atau orang yang marah kepada orang yang menasihatinya agar melakukan yang ma’ruf dan mencegahnya berbuat mungkar. Itu adalah kemarahan, kebencian dan kedongkolan yang bukan karena Allah Ta’ala. Dia tidak menyahut nasihat tersebut, tidak pula nasiaht tersebut meninggalkan bekas di hatinya, bahkan dia hanya bertambah marah dan melampaui batas.

Marah, antara yang Keterlaluan dan Kelewat Kendor

Terlalu kendornya sifat kemarahan bisa menyabaabkan seseorang kehilangan penjagaanyang mestinya ada untuk membela nyawa,kehormatan,harta dan agamanya. Maka barang siapa yang kehilangan secara total potensi marah, maka dia menjadi orang yang memiliki banyak kekurangan , karena dia tidak akan memiliki sikap tegas ketika menghadapi musibah. Nabi SAW bersabda “ Baran siapa yang dipancing kemarahnnya tapi dia tidak marah , maka dia seperti keledai ”.

Maka kemarahan yang terpuji adalah marah yang dibimbing oleh akal dan agama, sehingga ia akan menyala disaat dibutuhkan untuk membela dan padam ketika kondisi lebih membutuhkan sifat santun. Firman Allah dalam surat Al-Fath:29 yang artinya “keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”

Adapun kemarahan yang melampaui batas juga tercela. Karena kemarahan seperti ini akan mengeluarkan seseorang dari batas-batas akal dan agama. Marah akan menyebabkan dia seperti orang gila yang tidak memiliki wawasan, tidak memiliki pikiran dan pilihan. Bahkan karena kemarahan memuncak dia seperti orang yang dipaksa hingga tidak kuasa untuk mengendalikan diri sedikitpun. Untuk itulah, setiap kali api kemarahan menyala dan menguat maka akan membuat mata orang yang amrah itu buta dan telinganya tuli untuk mendengar nasihat. Bahkan semakin meluap amarahnya. Ketika dia hendak mengambil faedah dengan cahaya akalnya, akhirnya aspa kemarahan akan memadamkan cahaya akalnya secara total.

Pengaruh Amarah yang Tercela

Adapun pengaruh amarah terhadap hati, ia akan menyala dan berkobar apinya, hingga mendidihlah darahnya lalu menyebar di seluruh nadinya. Marah juga berpotensi menumbuhkan akhlak yang tercela berupa kedengkian, iri, permusuhan, kebencian dan dendam.

Sedangkan pengarunya terhadap kepala adalah , hati menyalurkan darah yang telah mendidih tersebut beserts asap kemarahan, maka kepala pun ikut mendidih. Selanjutnya kepala seperti goa yang dipenuhi oleh api . akibatnya, sirnalah kekuasaan akal hingga akhirnya sirna secara total dan efeknya tampak pula pada perilaku anggota badannya.

Pengaruh terhadap lisan, ia akan mencela, melaknat, atau berkata kotor dimana orang yang berakal akan malu mengatakannya. Bahkan orang yang menagatakannya akan malu pula setelah reda marahnya, hal itu disebabkan karena lepasnya kontrol dan tak karuan apa yang diucapkannya.

Pengaruh terhadap badan , dia akan memukul, menendang, menyerang, dan membunuh tanpa peduli ketika memeungkinkan. Namun jika tidak mampu untuk menyakiti orang yang dia marahi, dia arahkan amarahnya itu kepada dirinya sendiri sebagai sasarannya. Dia merobek bajunya, menampar pipinya dan terkadang bunuh diri.

Ada pula yang ketika marah dia berdiri untuk menghancurkan dan memecah perabot rumah, perkakas dan tempat tidur. Ada pula yang ketika marah tingkahnya seperti orang gila, mencaci diri sendiri.

Kemarahan Nabi

“Dan Rasulullah SAW tidak pernah marah karena dirinya, kecuali jika yang diharamkan Allah dilanggar, maka dia marah karena Allah”

Begitulah cuplikan hadist yang diriwayatkan oleh Muttafaq ‘Alaih.

Ketika dinyatakan bahwa Nabi pernah marah, maka marahnya tidak pernah melebihi batas kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Tidak pernah melampiaskan kecuali masih dalam kadar yang diperbolehkan syar’i.

Maka sudahkah sama kemarahan kita dengan kemarahan Rasulullah SAW ? kejujuran kita dengan kejujurannya? Keadilan kita dengan keadilannya? Sifat memaafkan kita dengan pemaafnya? Semoga shalawat dan salam ercurah atas Nabi yang mulia ini. Amien.

Komentar Ulama Tentang Marah

Ali bin Abi Thalib ra. Berkata: ” Seberapa sikap santun seseorang akan terlihat disaat marah.” Ketika ditanyakan kepada Asy-Sya’bi : “Mengapakah kemarahan yang cepat menyala iru semakin cepat pula redanya? Dan mengapakah kemarahan yang lambat akan lambat pula redanya?” Beliau menjawab : “karena kemarahan itu seperti api, semakin cepat menyala maka semakin cepat pula padamnya.”

Telah disebutkan bahwa Luqmanul Hakim berkata kepada putranya : “Wahai anakku, tidak dikenal watak asli seseorang kecuali dengan tiga tanda, tidak terbukti sifat santun kecuali (berlaku santun) disaat marah, tidak terbukti keberanian kecuali di medan perang , dan tidak terbukti persaudaraan kecuali di saat membutuhkan bantuan .”

Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti menyebutkan dalam Raudhatul Uqala’: “Sebaik-baik orang yang memiliki akal adalah orang yang tidak lekas dongkol, dan sebaik-baik jawaban orang adalah di saat dia tidak marah.” Ia juga berkata : “Cepat marah merupakn indikasi kejumudan, sedangkan menjauhinya adalah tanda orang yang berakal.”

Sifat marah adalah benih penyesalan , dan seseorang lebih mampu untuk menhindarinya daripada memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh kemarahannya. Bakar bin Muhammad berkata : “ Ibnu aun tidak suka marah, jika ada yang memancing kemarahannya, beliau berkata : “semoga Allah memberkatimu”

Al-Hasan berkata : “ Wahai anak Adam, setiap kali engkau marah, engkau menerkam,seakan engkau meloncat dengan satu loncatan yang akan mndarat di neraka.”

Imam Ibnu Taimiyah berkata : “ Orang yang gila kekuasaan menyukai kata-kata yang mengandung sanjungan kepadanya, meskipun kata-kata itu bathil. Dia akan marah karena kata-kata yang mengandung celaan kepadanya, meskipun itu benar. Sedangkan orang mukmin senantiasa ridha dengan ucapan kepada orang lain atau yang ditujukan kepadanya. Dia juga marah dengan ucapan bathil, baik ketika dia mengucapkannya kepada orang lain maupun ketika orang lain mengucapkan kepadanya.

Faktor – Faktor yang Memicu kemarahan

Faktor paling menonjol yang menimbulkan kemarahan adalah kebanggaan, ujub, sombong , sembrono, berkelakar, ejekan, celaan, suka menentang dan rakus terhadap harta dan jabatan. Semua itu merupakan akhlak yang rendah dan tercela secara syar’i. Maka tidak akan reda kemarahan yang tercela selagi masih bercokol sebab-sebabnya.

Terapi Kemarahan

Menghindari sebab-sebab kemarahan nya dan menghilangkan nya dengan sesuaru yang berkebalikan dengannya

Hendaknya mengetahui keutamaan menahan amarah, suka memaafkan dan bersikap santun, lalu berharap untuk mendapatkan pahala.

Hendaknya dia menyadari akan akibat dendam dan balasan yang akan ditimpakan oleh orang yang dia zhalimi.

Hendaknya menyibukkan hati dan anggota badannya dengan urusan hati dan anggota badannya dengan urusan-urusan yang bermanfaat dan urusan – urusan yang penting

Hendaknya berusaha zuhud di dunia

Hendaknya dia memperhatikan betapa buruk rupanya ketika marah, begitu pula dengan jiwanya

Mewujudkan tauhid hakiki yang mendorong untuk mengagungkan_Nya, berjalan di atas garis yang telah ditetapkan-Nya dan tidak melampiaskan kemarahannya kepada orang lain.

Hendaknya dia membaca ta’awudz kepada Allah dari setan ketika marah

Hendaknya dia mengetahui bahwa meninggalkan marah adalah sebab masuknya seseorang ke dalam neraka

Hendaknya dia mengingat betapa seringnya dia bermaksiat kepada Rabb-nya, namun betapa lembutnya perlakuan Allah atasnya karena hal itu akan mendorong dia untuk berlaku lembut kepada oranga lain dan tidak menimpakan hukuman atau menyakitinya.

Hendaknya dia mengingat bengkoknya hati dan kecendrungan nafsu kepadanya jikadia memandang kemarahan secara adil dan tidak menuruti kemarahannya.

Hendaknya dia mengetahui bahwa marah tanpa alasan yang benar akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT atasnya.